H-100 Ramadan

H-100 Ramadan

RAMADHAN, AKU MERINDUKANMU

Tak terasa 100 hari lagi kita sudah akan kedatangan tamu agung, Bulan Ramadhan 1441 H. Bagaimana sudah tidak sabar kah? Tenang sahabat tidak lama lagi kok.

Jangan lupa kita isi hari menjelang Bulan Ramadhan tahun ini dengan kegiatan produktif dan bermanfaat untuk diri sendiri, terlebih dapat memberikan manfaat untuk orang lain.

Semoga Allah Ta'ala memberikan kita kesehatan dan kesempatan untuk bertemu dengan bulan penuh keberkahan. Yuk, Mari Persiapkan :)
.
www.yatimmandiri.org

@yatimmandiri
#YatimMandiri #BersamaMemandirikan #RamadhanMemandirikan #Ramadhan1441H #Ramadhan2020 #BulanRamadhan #100HariMenujuRamadhan #RamadhanKareem #RamadhanPenuhBerkah #Zakat #Infak #Sedekah #Wakaf
Program Ramadan, Yatim Mandiri Bojonegoro

Program Ramadan, Yatim Mandiri Bojonegoro

Yatim Mandiri merupakan lembaga nirlaba yang berkhidmat memberdayakan segala potensi anak yatim dhuafa melalui pengelolaan dana Zakat, Infak, Shodaqoh dan Wakaf (ZISWAF) baik perseorangan maupun institusi. Lembaga ini pertama kali berdiri pada tanggal 31 Maret 1994.


Yatim Mandiri adalah Lembaga Amil Zakat Nasional yang telah memiliki legalitas berdasarkan SK. KEMENAG RI No. 185 Tahun 2016.


VISI

Menjadi lembaga terpercaya dalam membangun kemandirian yatim dan dhuafa

MISI

  1. Membangun nilai-nilai kemandirian yatim dan dhuafa
  2. Meningkatkan partisipasi masyarakat dan dukungan sumberdaya untuk kemandirian yatim dan dhuafa
  3. Meningkatkan capacity building organisasi


Program Ramadhan 1440H Yatim Mandiri
Program Ramadhan merupakan program yang digulirkan setiap tahunnya di Bulan Ramadhan oleh Yatim Mandiri untuk anak-anak yatim dan dhu’afa. Berbagai kegiatan telah dikemas mulai dari penyambutan bulan Ramadhan hingga menjelang hari Raya Idul Fitri. Penyelenggaraan program ini  bersinergi dengan berbagai instansi untuk bersama-sama  menyemarakkan bulan Ramadhan.




Pada Ramadhan 1440 H ini, Yatim Mandiri mengambil tema “Ramadhan Memandirikan”, konsep kemandirian diterjemahkan dalam hal ibadah. Diharapakan dalam program ini anak-anak menjalankan ibadah puasa guna melatih kemandirian mereka.


Beberapa program yang diselenggarakan oleh Yatim Mandiri, diantaranya:
  • Indonesia Mengaji
  • Pesantren Ramadan Kreatif
  • Parcel Lebaran Bercahaya
  • Pesantren Keluarga Harmonis


Indonesia Mengaji20.000 Yatim dan Dhuafa 
Khataman Al-Quran
20.000 anak yatim dan dhuafa khataman Al-Quran, buka puasa bersama & doa bersama untuk bangsa.

TUJUAN

  • Membiasakan anak yatim dhuafa cinta Al-Qur’an
  • Mengajak 20.000 yatim dhuafa khatam Al- Qur’an.
  • Mensyi’arkan kepada masyarakat umum tentang pentingnya membaca Al Qur’an di bulan Ramadhan 




Pesantren Ramadhan Kreatif 
(“Berani tampil, berani bicara”)

Pesantren Ramadhan Kreatif adalah program khusus di bulan Ramadhan yang disiapkan untuk anak usia 9 s.d 13  tahun atau kelas 3 s.d 6 SD. Dari data BPS 2019, jumlah anak usia 10 s.d 15 tahun sebanyak 12.38 juta jiwa. Anak-anak tersebut adalah generasi penerus bangsa, generasi penerus Islam untuk itu sangat perlu ditanamkan berbagai ketrampilan salah satunya etika berkomunikasi dalam Al Qur’an dan Hadis.

Parcel Lebaran BERCAHAYA
(25.000 Parcel Lebaran untuk yatim dan dhuafa, serta warga daerah pedalaman)
Parcel Lebaran BERCAHAYA merupakan program pemberian bingkisan hari raya untuk anak yatim atau keluarga yatim.

Pesantren Keluarga Harmonis
“Membangun Keluarga Idaman Sehat & Sejahtera”
45 KOTA DI SELURUH INDONESIA 
KAHMI dan HMI Bojonegoro bagikan takjil gratis untuk penunggu pasien di Rumah Sakit.

KAHMI dan HMI Bojonegoro bagikan takjil gratis untuk penunggu pasien di Rumah Sakit.


Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (KAHMI) dan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) bagikan takjil gratis untuk penunggu pasien di sejumlah rumah sakit di Bojonegoro. Kegiatan Tebar Takjil dan Buka Puasa ini dilaksanakan selama satu bulan penuh di bulan Ramadan ini.

Kegiatan yang sudah dilaksanakan semenjak tahun 2015 terus berlanjut hingga tahun ini, dan atas dukungan dari mayarakat luas kegiatan ini mampu membagikan 100 takjil dan buka puasa setiap harinya.


Menurut Edi Prayitno selaku kordinator kegiatan, seperti yang penulis kutip dari media online damarkita.com “Dukungan ini lah yang membuat kami semakin bersemangat untuk terus melaksanakan kegiatan ini” Pungkas Edi.


dengan mengambil tema "Bersama Meraih Berkah", kegiatan ini menerima bentuk Donasi dari siapa saja yang ingin bergabung menjadi bagian dari Ikhtiar memberi manfaat dibulan Ramadan ini dengan menghubungi, nomor kontak kordinator kegiatan di nomor WhatsApp 0813 3042 4942. dokumentasi pelaksanaan kegiatan bisa diikuti di akun instagram @tebartakjil dengan pencarian hastag #tebartakjil_bojonegoro
Puasa Sebagai Wahana Edukasi

Puasa Sebagai Wahana Edukasi


Oleh: Roli Abdul Rokhman
Ibadah puasa lebih banyak menekankan kesadaran dan keyakinan pelakunya dalam melaksanakan kewajiban dari Zat Yang Maha menentukan corak dan warna kehidupan manusia. Semua proses spekulatif dalam menjalankan ibadah puasa dari sudut simbolisme, pada hakekatnya tidak terlepas dari kehidupan manusia. Artinya melakukan ibadah puasa sebagai bentuk kepasrahan mutlak terhadap Allah swt. Karena itu orang tidak perlu mengetahui jawaban atas pertanyaan apa sebetulnya manfaat berpuasa, tetapi harus membulatkan tekad untuk melakukan puasa. Menurut pendapat Abu Su’ud; “puasa adalah salah sebuah simbol kepasrahan diri, suatu sikap yang menunjukkan adanya pemahaman yang tinggi terhadap sikap hubungan antara manusia dengan Tuhan.

Apabila pendapat tersebut ditelaah dengan pendekatan kerangka berpikir Al-Qur’an, maka puncak hubungan antara Tuhan dengan manusia itu disifatkan oleh Allah dalam Al-Quran sebagai hubungan antar kekasih, sebagaimana dinyatakan dalam firman-Nya:“Katakanlah kalau kalian mencintai Allah, maka ikutlah Daku, Allah mencintai kalian, lalu memberi kalian ampunan, dan Allah itu memang Maha Pengampun dan Penyayang. (Q.S. Ali-Imron: 31)

Dari sinilah tampak adanya nilai pendidikan dalam ibadah puasa yang diajarkan oleh agama Islam. Dalam Islam puasa dinyatakan sebagai sarana pernyataan secara mutlak kepada Allah swt. hal ini disebabkan karena manusia menyadari betapa baiknya hubungan antara Allah dengan hambanya, sebagai hubungan Cinta Kasih yang akan dapat memberikan keberuntungan.

Bila kita renungkan dari penjelasan di atas akan semakin jelaslah pengaruh pelaksanaan ibadah puasa bagi pendidikan, dimana tidak dicari-cari bila dinyatakan bahwa, ada beberapa aspek lain dari perubahan sikap dan perilaku manusia, diantaranya dalam hal dispensasi menjelaskan puasa Allah menaruh sasaran perubahan sikap itu dalam aspek pemahaman (kognitif), yaitu,…”inkuntu ta’lamun”(al-Baqarah/2: 184). Setelah memberi tahu pentingnya bulan Ramadhan, bagi kelangsungan hidup umat manusia, karena Ramadhan itu merupakan bulan diturunkan Al-Qur’an, Allah menghendaki kita manusia untuk pandai bersyukur dengan jalan melakukan puasa setiap bulan Ramadhan datang, hal ini dinyatakan Allah dengan bahasa” La’alllakum tasykurun”( Al-Baqarah/2: 186).

Ketika Allah kembali menerangkan hakekat puasa, adalah berpantang, tidak boleh makan, tidak boleh minum tidak boleh  berhubungan dengan suami-istri, selama waktu menjalankan puasa, sekali lagi dalam kontek ini Allah menjelaskan dan mengharapkan kepasrahan mutlak dengan menyatakan ;”La’allakum tattaquun”( al-Baqarah/2: 187). Semakin jelas yang penulis paparkan, bahwa tiga macam sasaran bagi perubahan sikap yang dikehendaki oleh Allah dalam menjalankan ibadah puasa itu perinciannya adalah:
Pertama; perubahan sikap yang bersifat kognitif, yaitu ketika menerima informasi tentang seluk-beluk yang terkait dengan pelaksanaan ibadah puasa yang harus dijalankan oleh setiap muslim.
Kedua; perubahan sikap yang bersifat afektif yaitu ketika manusia mengetahui hakekat puasa adalah masa berpantang untuk mengendalikan dari dari berbagai kepentingan dan keinginan yang dilarang dalam menjalankan puasa, masa ini adalah  merupakan periode penggemblengan jiwa sosial dan mental jihat keagamaan.
Ketiga; perubahan yang dikehendaki oleh Allah itu berupa sikap yang bersifat kecenderungan untuk berbuat dengan melakukan puasa dibulan Ramadhan sebagai bulan diturunkannya Al-Qur’an. 

Ketiga perubahan sikap tersebut merupakan hasil proses pendidikan yang dilakukan lewat puasa sebagai kewajiban beragama. Ibadah puasa merupakan perilaku Islami yang harus dipenuhi dan dilaksanakan oleh setiap  muslim. Hal ini semakin jelas bahwa puasa sebagai sarana pendidikan dimana puasa diasumsikan memiliki kemampuan untuk merubah sifat seseorang ataupun anak yang sudah mumayis menjadi  mengetahui seluk-beluk yang terkait dengan puasa, merasa yakin akan kebenaran puasa sebagai perintah agama yang harus ditaati sebagai bukti kepatuhan dan kepasrahan., dan pernyataan syukur kepada Allah yang telah menurunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk hidup bagi kehidupan manusia menuju kesempurnaan hidup yang diridai oleh Allah di dunia dan di akherat.

Pandangan ini selaras dengan pendapat Mansur Abadi Zadiana yang menyatakan; 
“Puasa merupakan pendidikan bagi keutamaan akhlak dan memperkuat jiwa kebaikan  dan membiasakan manusia untuk meninggalkan perbuatan-perbuatan yang rendah.” 
Setelah sebulan penuh orang beriman melakukan puasa untuk menjaga dan mengarahkan perasaannya, lidah, gharizahnya, solidaritasnya agar tidak terjatuh dalam keburukan dan penyelewengan yang merugikan. Karena itu pelaksanaan ibadah puasa harus dilakukan dengan dasar iman, ikhsan, ikhlash, dan tertib dan rajin (istiqamah).

Roli Abdul Rokhman: Sekretaris ICMI Orda Bojonegoro. Anggota Presidium Majlis Daerah  KAHMI Kabupaten Bojonegoro.

Puasa Membina Kedisiplinan

Puasa Membina Kedisiplinan


Oleh: Roli Abdul Rokhman

Sebagai mana dalam pembahasan yang sudah penulis paparkan, bahwa di dalam ajaran Islam ibadah puasa dilakukan untuk meninggikan kualitas manusia yang di dalam bahasa Al-Qur’an disitir dengan sebutan Takwa. Berdasarkan hal ini, maka puasa sangat berhubungan erat, dengan pemberdayaan sumber daya manusia yang telah menjadi trend decade komtemporer. Kalau kita berbicara mengenai kualitas manusia, maka cakrawala pandangnya menjadi sangat kompleks dan mendalam, demikian juga apa bila dikaitkan dengan kedisiplinan yang mempribadi pada diri seseorang. Namun demikian itu pun merupakan kaitan yang cukup sederhana dan mudah untuk dinalar bagi yang mau berpikir secara serius dan mendalam.


Logika yang penulis tawarkan mudah diterima, karena kualitas manusia yang ingin dibina melalui puasa ini tidak hanya dalam dimensi duniawi melainkan transendental, melampaui batasan ruang dan waktu. Secara simple dapat dikatakan bahwa kualitas manusia yang dikehendaki dalam paparan pemikiran ini tidak lain adalah kualitas manusia yang memiliki kemampuan dan kesediaan untuk menyerahkan dan menyadarkan hidupnya kepada kehendak Yang Maha Esa, atau disebut dengan Generasi yang memiliki kualitas tauhid secara utuh dan benar.


Bila kita cermati, kedisiplinan sangat berhubungan erat dengan masalah kehidupan manusia setiap harinya, dengan demikian lebih banyak menekankan ikhtiyari keduniaan. Menurut keyakinan penulis, sebagai suatu agama yang besar dan sempurna, agama Islam telah banyak memberikan pedoman dalam hal-hal yang menyangkut kehidupan sosial kemasyarakatan. Oleh karena itu tentunya kita yang ada di dalamnya, dapat menemukan pedoman kearah pembinaan dan peningkatan tingkat kedisiplinan hidup dalam keseharian. Islam telah mengajarkan kepada kita tentang persamaan bagi setiap orang dalam kehidupan, baik yang menyangkut hal hidup ataupun kewajiban hidup, sesuai dengan kualitas diri pribadinya.


Disebutkan dalam Al-Qur’an, bahwa “bagi Allah yang paling mulia di antara manusia adalah mereka yang paling bertaqwa” ( Q.S. Al- Hujurat ;13). Ini mengandung pengertian bahwa dalam pandangan Islam, tidak membedakan laki-laki, wanita, dewasa, anak-anak, suku, ras, kaya atau miskin dan sebagainya. Islam dalam kerangka berfikir ini benar-benar menyapa manusia secara individual yang menentukan hanyalah kualitas ketakwaan. Tolok ukurnya individu dalam mendisiplinkan diri pada berbagai perintah yang harus dilaksanakan dan larangan yang harus ditinggalkan, demikian juga yang mengetahui kualitas ketakwaan seseorang hanyalah Allah semata. Oleh karena itu manusia tidak berwenang untuk menghakimi tingkat kepatuhan dan kepasrahan seseorang dalam aktivitas ibadah.

Agama Islam menjunjung tinggi persamaan antara manusia dan warga masyarakat, demikian juga dalam Islam menjunjung tinggi kedisiplinan sebagaimana dalam surat Al-Insyiroh dinyatakan “  Maka apabila kamu telah selesai dari sesuatu urusan, kerjakanlah dengan sesungguhnya urusan yang  kepada Tuhanlah hendaknya kamu berharap” (Q.S. Al-Insyiroh : 7-8)

Pernyataan dalam Al-Qur’an inilah yang menyebabkan Islam merupakan agama yang progesif oleh karena ia mengajak pemeluknya untuk tuntas dengan baik apa yang menjadi tugas dan tanggung jawab. Sekaligus mencari dan melakukan aktivitas ibadah yang lebih bermakna guna menggapai keridaan Allah swt. Dengan demikian menurut hemat penulis, orang Islam yang tidak memiliki kualitas amal dan ibadah, dengan kuantitas yang cukup, maka belumlah ia dikategorikan orang Islam yang baik.


Islam dan progesivitas kehidupan membawa kita pada pengertian bahwa Islam membawa kita kepada adanya ketertiban dan keteraturan dalam berbagai aktivitas, hal ini yang harus ditanamkan pada generasi kita semenjak dini. Hal ini jelas bahwa dalam Islam tidak menghendaki adanya kekacauan, penyelewengan dan kerusakan beserta perbuatan yang bersifat merusak. Inilah yang harus kita tanamkan kepada generasi kita agar benar-benar lurus dalam melakukan berbagai aktivitas dengan konsisten dan bertanggung jawab.

Dari sinilah sebenarnya muncul kesadaran bersama dari umat Islam untuk lebih mengedepankan kedisiplinan dan pembinaannya kepada generasi penerus dimasa mendatang. Kesadaran ini dilandaskan kepada kerangka berfikir dan kehendak ajaran Islam yang menghendaki adanya kedamaian, ketertiban dan keteraturan dalam berbagi aktivitas kehidupan terlebih lagi peribadatannya.

Akhirnya pemahaman ini kita tarik benang merah, bahwa pelaksanaan ibadah puasa dapat memberikan pengaruh terhadap pembinaan kedisiplinan orang yang menjalankannya. Demikian juga anak yang masih dalam proses pembinaan kedisiplinan, sehingga pada diri manusia utamanya anak akan tertanam kesadaran pada kedamaian, ketertiban, keteraturan dan keaktifan dalam berbagai proses dan aktivitas yang harus dijalaninya sesuai dengan aturan dan petunjuk yang harus dipenuhi dan ditaati. 


Menurut pendapat Satjipto Raharja,  dalam makalahnya yang berjudul : Puasa Dan Pembinaan Disiplin Nasional : “ Puasa Memberikan Sahamnya Sendiri Terhadap Pembinaan Disiplin Nasional”. Bila ditelusuri dengan pemikiran yang jernih, statemen ini cukup menjadi referensi bagi kita karena sebagaimana pemaparan penulis pengendalian diri adalah merupakan tolak ukur kedisiplinan yang cukup sulit, untuk diterapkan. Dalam arti yang lebih dalam disiplin dapat berarti mengenyampingkan kepentingan diri sendiri, Islam menghendaki ketakwaan yaitu penyerahan diri setinggi-tingginya kepada kehendak Yang Maha Kuasa yaitu Allah. Ini adalah merupakan tuntutan berat bagi setiap muslim apalagi anak yang masih dalam proses pembinaan disiplin. Namun demikian berkat kesadaran orang tua dan keadaan lingkungan sekitar yang memiliki kultural Islam, anak yang masih lemah dan terbatas segala sesuatunya telah mampu menjalankan ibadah puasa sesuai dengan standar-standar.


Menurut Zakiah Darojat dalam bukunya Puasa Meningkatkan Kesehatan Mental dinyatakan : “Kelakuan buruk terkutuk seseorang itu,  timbul dari dorongan hawa nafsu yang tidak terkendali. Alat pengendali diri yang paling ampuh adalah keimanan yang terjalin masuk kedalam kepribadian.”


Jelas sekali bahwa perilaku terkutuk timbul karena tidak adanya kontrol nafsu, oleh karena itu secara alamiah puasa akan menjadi pengendali diri dalam melakukan perilaku buruk dan terkutuk. Sebagaimana pernyataan yang dikemukakan H.M. Amien Rais; “Ibadah puasa akan dapat memberikan perisai atau benteng yang handal untuk menggapai rayuan keduniaan, seperti kata Nabi, “puasa dapat menjadi pemisah manusia dari neraka.” Dengan berpuasa seseorang akan memiliki kekuatan yang tangguh, sehingga dapat melindungi diri dari berbagai pengaruh nafsu yang buruk dan menyesatkan.


Dengan adanya benteng yang kokoh inilah, manusia akan mampu mengembangkan fitrah kemanusiaannya secara lebih baik dan sempurna. Menurut Ali Syariati dalam bukunya The Man Of Islam disebut sebagai Insan Kamil. Sosok manusia yang telah mampu menyeimbangkan pola kehidupan dunia dan akherat untuk mengemban misi rahmatan lil ‘alaamiin. 


Dalam kaitannya dengan kesadaran mentaati aturan Hamka menegaskan: “Apabila puasa dikerjakan dengan penuh iman dan menghitung laba rugi rohani, terdidiklah diri menjauhi dosa. Beberapa pendapat dan ulasan di atas memberikan pemahaman yang jelas bagi kita, bahwa dengan menjalankan ibadah puasa, akan tertanam dalam diri kita, wawasan, mental dan kesadaran untuk mengendalikan diri dari berbagai perilaku yang tidak sesuai dengan tolak ukur hukum dan kehidupan dari berbagai aspeknya. Dengan demikian kesadaran untuk taat dan patuh terhadap aturan dan perintah yang membawa pada kemaslahatan akan semakin meningkat.


Dari paparan pemikiran diatas dapat disimpulkan tentang rasionalisasi pelaksanaan ibadah puasa dalam pembentukan kedisiplinan anak, yaitu dengan melaksanakan ibadah puasa secara tertib, aktif dan ikhlas akan tertanam jiwa patuh dan taat, karena anak telah terbiasa memenuhi aturan berpuasa sekalipun tidak ada yang mengontrol kecuali Allah Dengan demikian sikap tunduk patuh dan taat yang telah tertanam di dalam jiwa anak akan mempengaruhi perilaku anak dalam mematuhi peraturan dan tata tertib sekolah. Inilah bentuk kedisiplinan yang harus dipenuhi oleh anak yaitu, taat, patuh dan bertanggungjawab dalam mentaati perturan sekolah. Dan hendaknya menjadi perhatian bagi guru dan orangtua untuk membina dan mengembangkan sikap disiplin anak melalui ibadah puasa. Amiin. *) 


Roli Abdul Rokhman: Sekretaris ICMI Orda Bojonegoro. Anggota Presidium Majlis Daerah  KAHMI Kabupaten Bojonegoro