Akhlaq Terbaik

Akhlaq Terbaik

“Muslim yang paling sempurna imannya ialah yang terbaik akhlaknya.” (HR. Tirmidzi dan Ahmad).
Hadis ini mengungkapkan hal yang sangat penting dalam Islam, yaitu akhlak. Selain masalah tauhid dan syariat, akhlak memiliki porsi pembahasan yang sangat luas. Secara etimotogi akhlak terambil dari akar kata khuluk yang berarti tabiat, muruah, kebiasaan, fitrah, atau naluri. Sedangkan secara syar'i, seperti diungkapkan Imam Al-Ghazali, akhlak adalah sesuatu yang menggambarkan perilaku seseorang yang terdapat dalam jiwa yang baik, yang darinya keluar perbuatan secara mudah dan otomatis tanpa terpikir sebelumnya.



Jika sumber perilaku itu didasari oleh perbuatan yang baik dan mulia, yang dapat dibenarkan oleh akal dan syariat, maka ia dinamakan akhlak yang mulia. Namun, jika sebaliknya, maka ia dinamakan akhlak yang tercela. 


Abu Hurairah ra. mengabarkan bahwa suatu saat Rasulullah SAW pernah ditanya tentang kriteria orang yang akan masuk syurga. Beliau menjawab, “Takwa kepada Allah dan akhlak yang baik.” (HR. Tirmidzi dan Ahmad).


Tatkala Rasulullah SAW menasihati sahabatnya, beliau menggandengkan nasihat untuk bertakwa dengan nasihat untuk berakhlak baik pada manusia. Ada sebuah riwayat dari Abi Dzar Al-Ghiffary bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Bertakwalah kepada Allah di manapun engkau berada dan balaslah perbuatan buruk dengan perbuatan baik niscaya kebaikan itu akan menutupi kejelekan dan bergaullah dengan manusia dengan akhlak yang baik.” (HR. Tirmidzi).


Benar, tauhid adalah inti dan pokok ajaran Islam yang harus selalu diutamakan. Namun, hal ini tidak berarti mengabaikan akhlak sebagai penyempurna. Tauhid dan akhlak sangat berkaitan erat, karena tauhid adalah realisasi akhlak seorang Muslim.


Seorang yang bertauhid dan baik akhlaknya berarti ia adalah sebaik-baik manusia. Makin sempurna tauhid seseorang, akan semakin baik pula akhlaknya. Sebaliknya, tatkala seorang hamba memiliki akhlak buruk, berarti akan lemah pula tauhidnya. Akhlak adalah tolak ukur kesempurnaan iman seseorang. Rasulullah SAW bersabda, “Orang Mukmin yang paling sempurna imannya ialah yang terbaik akhlaknya.” (HR. Tirmidzi dan Ahmad).


Setidaknya ada enam dimensi akhlak dalam Islam, yaitu:
1. Akhlak kepada Allah SWT. Diaplikasikan dengan cara mencintai-Nya, mensyukuri nikmat-Nya, malu berbuat maksiat, selalu bertobat, bertawakkal, dan senantiasa mengharapkan limpahan rahmat-Nya.
2. Akhlak kepada Rasulullah SAW. Diaplikasikan dengan cara mengenalnya lebih jauh, kemudian berusaha mencintai dan mengikuti sunnah-sunnahnya, termasuk pula banyak bershalawat, menerima seluruh ajaran beliau dan menghidupkan kembali sunnah-sunnah yang beliau contohkan.
3. Akhlak terhadap Al-Quran. Diaplikasikan dengan membacanya penuh perhatian, tartil. Kemudian berusaha untuk memahami, menghapal, dan mengamalkannya.
4. Akhlak kepada orang-orang di sekitar kita, mulai dari cara memperlakukan diri sendiri, kemudian orangtua, kerabat, tetangga, hingga saudara seiman.
5. Akhlak kepada orang kafir. Caranya adalah dengan membenci kekafiran mereka. Namun, kita harus tetap berbuat adil kepada mereka. Agama memperbolehkan kita berbuat baik pada mereka selama hal itu tidak bertentangan dengan syariat Islam, atau untuk mengajak mereka pada Islam.
6. Akhlak terhadap lingkungan dan makhluk hidup lain. Caranya dengan berusaha menjaga keseimbangan alam, menyayangi binatang, melestarikan tumbuh-tumbuhan, dan lainnya. Wallahu a'lam. 


Donasi Infak: Klik Disini
Harus Optimis

Harus Optimis

Dalam Al-Quran, Allah SWT mengingatkan agar kita tidak berputus asa dari rahmat Tuhan. Sikap demikian hanya patut bagi orang-orang kafir atau orang-orang yang tidak percaya kepada Tuhan (QS. 12:87). 
Orang mukmin berkeharusan untuk memiliki sikap dan pandangan yang optimistik, khususnya tentang masa depan dirinya di akhirat kelak. Dalam terminologi sufistik, ajaran tentang sikap dan pandangan yang optimistik ini disebut 'raja' (sikap penuh harap).
'Raja', menurut Abu al-Qasim al-Ashfahani, berarti kuatnya harapan seseorang akan tergapainya sesuatu yang didambakan. Bagi kaum sufi, dambaan itu bisa berupa ampunan Tuhan (maghfirah) dan perkenan-Nya (mardhatillah). Kuatnya harapan ini membuat kaum sufi semakin intens dalam beribadah, dan seakan tak mengenal lelah dalam melakukan riyadhah dan mujahadah demi tercapainya cita-cita (mathlub).


Sikap optimisme, seperti dikemukakan di atas, tentu tidak datang dengan sendirinya. Kemunculannya, harus didahului oleh rasa takwa yang membuat seseorang merasa perlu untuk meningkatkan volume ibadahnya kepada Tuhan. Pada saat inilah, sikap optimisme itu tumbuh dan berkembang.


Untuk itu, optimisme yang disebut raja' bukanlah impian dan angan-angan belaka. Penulis kitab al-Hikam Ibnu 'Athaillah al-Sakandari mengemukakan, 'raja' adalah suatu harapan yang disertai oleh tindakan nyata. Jika tidak, ia bukanlah raja', tetapi angan-angan kosong (amniyyah) yang justru dikecam oleh agama. Pendapat serupa dikemukakan pula oleh Makruf al-Karkhi, pakar tasawur lainnya. Baginya, keinginan masuk surga tanpa bekerja tergolong dosa besar. “Harapanmu untuk mendapat rahmat dari Tuhan yang kepada-Nya kamu sendiri tidak tunduk dan patuh adalah tindakan bodoh dan konyol,” jelasnya.


Nabi Muhammad SAW sendiri mengecam orang-orang yang karena terbuai oleh harapan, mereka lantas malas bekerja dan beramal saleh. “Orang yang kuat lagi cerdas,” sabda Nabi, “adalah orang yang dapat mengendalikan diri dan bekerja untuk hari akhirat. Sedang orang yang lemah lagi konyol adalah orang yang selalu menuruti hawa nafsunya, tapi menaruh berbagai harapan dan angan-angan kepada Tuhan.”


Agar terhindar dari kekonyolan ini, kaum sufi dan orang-orang bijak sering mengingatkan kita dengan firman Allah ini: “Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorang pun dalam beribadat kepada-Nya.” (QS. 18:110).


Jadi, optimisme yang dikehendaki dan yang diajarkan kaum sufi adalah optimisme yang dibangun di atas landasan syar'i yang sangat kuat, yaitu iman dan amal saleh. Pandangan demikian, tidak saja dapat memacu produktivitas kerja, tetapi juga memberikan suasana dan iklim yang sangat kondusif bagi kemajuan seseorang, baik dalam bidang fisik material maupun mental spiritual.(*)
Donasi Infak: Klik Disini
Muhasabah di Penghujung Tahun

Muhasabah di Penghujung Tahun

Hari berganti hari, tahun berganti tahun, tiada terasa begitu banyak hal-hal yang telah kita perbuat, sedangkan usia semakin menggiring kepada kematian. Tapi tidak seorang pun dari kita yang mengetahui apakah amalannya diterima oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala, atau justru ia tertolak, sehingga menjadi orang yang merugi.

Pergantian tahun merupakan momen penting bagi kita untuk introspeksi (muhasabah), melihat kembali apa yang telah kita kerjakan pada masa yang lalu untuk berbuat lebih baik di sisa waktu. 


Muhasabah (menghisab) diri ada dua macam: menghisab sebelum berbuat dan menghisab sesudahnya.
Adapun yang pertama (menghisab sebelum berbuat) adalah berfikir pada awal perencanaan dan kehendaknya dan tidak langsung berbuat sampai jelas baginya mana yang baik, melakukan rencananya atau meninggalkannya.



Al Hasan Al Bashri Rahimahullah berkata, “Allah merahmati seseorang yang berfikir pada awal perencanaannya, apabila (rencananya itu) karena Allah ia lanjutkan, dan apabila karena selainnya ia tinggalkan.”
Sebagian ulama menjabarkan hal ini: apabila jiwa seseorang tergerak mengerjakan sesuatu, hendaknya ia merenung dan mengamati apakah rencananya itu dalam batas kesanggupannya atau tidak? Apabila ia di luar batas kesanggupannya, hendaknya ia berhenti. Sedangkan apabila masih dalam batas kesanggupannya, hendaknya ia merenung dan mengamati kembali, apakah menjalaninya yang lebih baik ataukah meninggalkannya. Apabila jawabannya yang kedua, hendaknya ia meninggalkannya dan tidak menjalaninya. 

Baca Juga : Beasiswa MEC 2020

Sedangkan apabila jawabannya yang pertama, ia merenung dan mengamati sekali lagi, apakah motivasinya mengharapkan wajah Allah SWT dan pahalaNya atau mengharapkan kedudukan, pujian dan harta dari makhluk? Apabila jawabannya yang kedua, hendaknya ia tidak menjalaninya meskipun rencananya membantunya meraih harapan-harapannya. Agar jiwanya tidak terbiasa dengan kesyirikan sehingga menjadi ringan baginya berbuat bukan karena Allah. Karena semakin ringan bagi seseorang berbuat demikian semakin berat pula baginya berbuat karena Allah SWT, hingga ikhlas menjadi perkara yang terberat bagi dia.
Sedangkan apabila jawabannya adalah yang pertama, ia merenung dan mengamati lagi apakah faktor-faktor yang memudahkan terpenuhi, ia memiliki rekan-rekan yang siap membantu atau membelanya, apabila rencananya tersebut membutuhkan orang-orang yang membantunya? Apabila ia tidak memiliki rekan-rekan yang membantunya, hendaknya ia menahan dirinya. Sebagaimana Nabi SAW bersabar dari berjihad di Makkah sampai ia memiliki kekuatan dan sahabat-sahabat yang membelanya. Dan apabila ia memiliki rekan-rekan yang menolongnya, silahkan ia lanjutkan karena sesungguhnya ia akan menang.



Keberhasilan tidak akan pergi kecuali dari orang yang menelantarkan salah satu dari perkara-perkara ini, karena kapan perkara-perkara di atas terpenuhi pada seseorang keberhasilan pasti menyertainya.


Ini adalah empat tingkatan, seseorang perlu menghisab dirinya pada tingkatan-tingkatan tersebut sebelum berbuat. Karena tidak semua yang ingin dilakukan seseorang, di dalam batas kesanggupannya. Dan tidak semua yang ia sanggupi, mengerjakannya lebih baik dari meninggalkannya. Dan tidak semua yang mengerjakannya lebih baik dari meninggalkannya, seseorang mengerjakannya karena Allah. Dan tidak semua yang niatnya karena Allah faktor-faktor pendukungnya terpenuhi. Apabila seseorang menghisab dirinya di atas empat tingkatan ini jelaslah baginya mana yang harus ia kerjakan dan mana yang harus ia tinggalkan.


Baca Juga : Beasiswa SMP & SMA

Yang kedua: Menghisab diri sesudah berbuat. 
Dan hal ini ada tiga macam. Yang pertama, menghisab diri atas suatu ketaatan yang usai ia kerjakan, namun ia kurang memenuhi hak Allah SWT padanya. Sehingga ia belum menunaikannya dalam bentuk yang seharusnya.
Dan hak Allah di dalam suatu amalan ketaatan ada enam macam: ikhlas dalam berbuat, totalitas dalam beribadah kepada-Nya, mencontoh Rasulullah SAW dalam pelaksanaannya, mengakui segala karunia dan anugrahNya dan setelah itu mengakui kurangnya dia dalam memenuhi semua itu.


Maka ia menghisab dirinya apakah ia telah memenuhi hak tingkatan-tingkatan ini? Apakah ia sudah mendatangkan itu semua dalam ketaatan yang telah ia kerjakan ini?
Kedua, menghisab diri atas setiap perbuatan yang telah ia kerjakan, namun meninggalkannya lebih baik dari melakukannya.


Ketiga, menghisab dirinya atas perkara mubah atau kebiasaan yang telah ia kerjakan, kenapa ia kerjakan? Apakah ia mengerjakannya karena mengharapkan wajah Allah dan negeri akhirat? Sehingga ia menjadi orang yang beruntung, atau mengharapkan dunia dan kesenangannya yang sesaat, sehingga ia merugi tidak beruntung!(*)
Puasa Sebagai Wahana Edukasi

Puasa Sebagai Wahana Edukasi


Oleh: Roli Abdul Rokhman
Ibadah puasa lebih banyak menekankan kesadaran dan keyakinan pelakunya dalam melaksanakan kewajiban dari Zat Yang Maha menentukan corak dan warna kehidupan manusia. Semua proses spekulatif dalam menjalankan ibadah puasa dari sudut simbolisme, pada hakekatnya tidak terlepas dari kehidupan manusia. Artinya melakukan ibadah puasa sebagai bentuk kepasrahan mutlak terhadap Allah swt. Karena itu orang tidak perlu mengetahui jawaban atas pertanyaan apa sebetulnya manfaat berpuasa, tetapi harus membulatkan tekad untuk melakukan puasa. Menurut pendapat Abu Su’ud; “puasa adalah salah sebuah simbol kepasrahan diri, suatu sikap yang menunjukkan adanya pemahaman yang tinggi terhadap sikap hubungan antara manusia dengan Tuhan.

Apabila pendapat tersebut ditelaah dengan pendekatan kerangka berpikir Al-Qur’an, maka puncak hubungan antara Tuhan dengan manusia itu disifatkan oleh Allah dalam Al-Quran sebagai hubungan antar kekasih, sebagaimana dinyatakan dalam firman-Nya:“Katakanlah kalau kalian mencintai Allah, maka ikutlah Daku, Allah mencintai kalian, lalu memberi kalian ampunan, dan Allah itu memang Maha Pengampun dan Penyayang. (Q.S. Ali-Imron: 31)

Dari sinilah tampak adanya nilai pendidikan dalam ibadah puasa yang diajarkan oleh agama Islam. Dalam Islam puasa dinyatakan sebagai sarana pernyataan secara mutlak kepada Allah swt. hal ini disebabkan karena manusia menyadari betapa baiknya hubungan antara Allah dengan hambanya, sebagai hubungan Cinta Kasih yang akan dapat memberikan keberuntungan.

Bila kita renungkan dari penjelasan di atas akan semakin jelaslah pengaruh pelaksanaan ibadah puasa bagi pendidikan, dimana tidak dicari-cari bila dinyatakan bahwa, ada beberapa aspek lain dari perubahan sikap dan perilaku manusia, diantaranya dalam hal dispensasi menjelaskan puasa Allah menaruh sasaran perubahan sikap itu dalam aspek pemahaman (kognitif), yaitu,…”inkuntu ta’lamun”(al-Baqarah/2: 184). Setelah memberi tahu pentingnya bulan Ramadhan, bagi kelangsungan hidup umat manusia, karena Ramadhan itu merupakan bulan diturunkan Al-Qur’an, Allah menghendaki kita manusia untuk pandai bersyukur dengan jalan melakukan puasa setiap bulan Ramadhan datang, hal ini dinyatakan Allah dengan bahasa” La’alllakum tasykurun”( Al-Baqarah/2: 186).

Ketika Allah kembali menerangkan hakekat puasa, adalah berpantang, tidak boleh makan, tidak boleh minum tidak boleh  berhubungan dengan suami-istri, selama waktu menjalankan puasa, sekali lagi dalam kontek ini Allah menjelaskan dan mengharapkan kepasrahan mutlak dengan menyatakan ;”La’allakum tattaquun”( al-Baqarah/2: 187). Semakin jelas yang penulis paparkan, bahwa tiga macam sasaran bagi perubahan sikap yang dikehendaki oleh Allah dalam menjalankan ibadah puasa itu perinciannya adalah:
• Pertama; perubahan sikap yang bersifat kognitif, yaitu ketika menerima informasi tentang seluk-beluk yang terkait dengan pelaksanaan ibadah puasa yang harus dijalankan oleh setiap muslim.
• Kedua; perubahan sikap yang bersifat afektif yaitu ketika manusia mengetahui hakekat puasa adalah masa berpantang untuk mengendalikan dari dari berbagai kepentingan dan keinginan yang dilarang dalam menjalankan puasa, masa ini adalah  merupakan periode penggemblengan jiwa sosial dan mental jihat keagamaan.
• Ketiga; perubahan yang dikehendaki oleh Allah itu berupa sikap yang bersifat kecenderungan untuk berbuat dengan melakukan puasa dibulan Ramadhan sebagai bulan diturunkannya Al-Qur’an. 

Ketiga perubahan sikap tersebut merupakan hasil proses pendidikan yang dilakukan lewat puasa sebagai kewajiban beragama. Ibadah puasa merupakan perilaku Islami yang harus dipenuhi dan dilaksanakan oleh setiap  muslim. Hal ini semakin jelas bahwa puasa sebagai sarana pendidikan dimana puasa diasumsikan memiliki kemampuan untuk merubah sifat seseorang ataupun anak yang sudah mumayis menjadi  mengetahui seluk-beluk yang terkait dengan puasa, merasa yakin akan kebenaran puasa sebagai perintah agama yang harus ditaati sebagai bukti kepatuhan dan kepasrahan., dan pernyataan syukur kepada Allah yang telah menurunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk hidup bagi kehidupan manusia menuju kesempurnaan hidup yang diridai oleh Allah di dunia dan di akherat.

Pandangan ini selaras dengan pendapat Mansur Abadi Zadiana yang menyatakan; 
“Puasa merupakan pendidikan bagi keutamaan akhlak dan memperkuat jiwa kebaikan  dan membiasakan manusia untuk meninggalkan perbuatan-perbuatan yang rendah.” 
Setelah sebulan penuh orang beriman melakukan puasa untuk menjaga dan mengarahkan perasaannya, lidah, gharizahnya, solidaritasnya agar tidak terjatuh dalam keburukan dan penyelewengan yang merugikan. Karena itu pelaksanaan ibadah puasa harus dilakukan dengan dasar iman, ikhsan, ikhlash, dan tertib dan rajin (istiqamah).

Roli Abdul Rokhman: Sekretaris ICMI Orda Bojonegoro. Anggota Presidium Majlis Daerah  KAHMI Kabupaten Bojonegoro.

Puasa Membina Kedisiplinan

Puasa Membina Kedisiplinan


Oleh: Roli Abdul Rokhman

Sebagai mana dalam pembahasan yang sudah penulis paparkan, bahwa di dalam ajaran Islam ibadah puasa dilakukan untuk meninggikan kualitas manusia yang di dalam bahasa Al-Qur’an disitir dengan sebutan Takwa. Berdasarkan hal ini, maka puasa sangat berhubungan erat, dengan pemberdayaan sumber daya manusia yang telah menjadi trend decade komtemporer. Kalau kita berbicara mengenai kualitas manusia, maka cakrawala pandangnya menjadi sangat kompleks dan mendalam, demikian juga apa bila dikaitkan dengan kedisiplinan yang mempribadi pada diri seseorang. Namun demikian itu pun merupakan kaitan yang cukup sederhana dan mudah untuk dinalar bagi yang mau berpikir secara serius dan mendalam.


Logika yang penulis tawarkan mudah diterima, karena kualitas manusia yang ingin dibina melalui puasa ini tidak hanya dalam dimensi duniawi melainkan transendental, melampaui batasan ruang dan waktu. Secara simple dapat dikatakan bahwa kualitas manusia yang dikehendaki dalam paparan pemikiran ini tidak lain adalah kualitas manusia yang memiliki kemampuan dan kesediaan untuk menyerahkan dan menyadarkan hidupnya kepada kehendak Yang Maha Esa, atau disebut dengan Generasi yang memiliki kualitas tauhid secara utuh dan benar.


Bila kita cermati, kedisiplinan sangat berhubungan erat dengan masalah kehidupan manusia setiap harinya, dengan demikian lebih banyak menekankan ikhtiyari keduniaan. Menurut keyakinan penulis, sebagai suatu agama yang besar dan sempurna, agama Islam telah banyak memberikan pedoman dalam hal-hal yang menyangkut kehidupan sosial kemasyarakatan. Oleh karena itu tentunya kita yang ada di dalamnya, dapat menemukan pedoman kearah pembinaan dan peningkatan tingkat kedisiplinan hidup dalam keseharian. Islam telah mengajarkan kepada kita tentang persamaan bagi setiap orang dalam kehidupan, baik yang menyangkut hal hidup ataupun kewajiban hidup, sesuai dengan kualitas diri pribadinya.


Disebutkan dalam Al-Qur’an, bahwa “bagi Allah yang paling mulia di antara manusia adalah mereka yang paling bertaqwa” ( Q.S. Al- Hujurat ;13). Ini mengandung pengertian bahwa dalam pandangan Islam, tidak membedakan laki-laki, wanita, dewasa, anak-anak, suku, ras, kaya atau miskin dan sebagainya. Islam dalam kerangka berfikir ini benar-benar menyapa manusia secara individual yang menentukan hanyalah kualitas ketakwaan. Tolok ukurnya individu dalam mendisiplinkan diri pada berbagai perintah yang harus dilaksanakan dan larangan yang harus ditinggalkan, demikian juga yang mengetahui kualitas ketakwaan seseorang hanyalah Allah semata. Oleh karena itu manusia tidak berwenang untuk menghakimi tingkat kepatuhan dan kepasrahan seseorang dalam aktivitas ibadah.

Agama Islam menjunjung tinggi persamaan antara manusia dan warga masyarakat, demikian juga dalam Islam menjunjung tinggi kedisiplinan sebagaimana dalam surat Al-Insyiroh dinyatakan “  Maka apabila kamu telah selesai dari sesuatu urusan, kerjakanlah dengan sesungguhnya urusan yang  kepada Tuhanlah hendaknya kamu berharap” (Q.S. Al-Insyiroh : 7-8)

Pernyataan dalam Al-Qur’an inilah yang menyebabkan Islam merupakan agama yang progesif oleh karena ia mengajak pemeluknya untuk tuntas dengan baik apa yang menjadi tugas dan tanggung jawab. Sekaligus mencari dan melakukan aktivitas ibadah yang lebih bermakna guna menggapai keridaan Allah swt. Dengan demikian menurut hemat penulis, orang Islam yang tidak memiliki kualitas amal dan ibadah, dengan kuantitas yang cukup, maka belumlah ia dikategorikan orang Islam yang baik.


Islam dan progesivitas kehidupan membawa kita pada pengertian bahwa Islam membawa kita kepada adanya ketertiban dan keteraturan dalam berbagai aktivitas, hal ini yang harus ditanamkan pada generasi kita semenjak dini. Hal ini jelas bahwa dalam Islam tidak menghendaki adanya kekacauan, penyelewengan dan kerusakan beserta perbuatan yang bersifat merusak. Inilah yang harus kita tanamkan kepada generasi kita agar benar-benar lurus dalam melakukan berbagai aktivitas dengan konsisten dan bertanggung jawab.

Dari sinilah sebenarnya muncul kesadaran bersama dari umat Islam untuk lebih mengedepankan kedisiplinan dan pembinaannya kepada generasi penerus dimasa mendatang. Kesadaran ini dilandaskan kepada kerangka berfikir dan kehendak ajaran Islam yang menghendaki adanya kedamaian, ketertiban dan keteraturan dalam berbagi aktivitas kehidupan terlebih lagi peribadatannya.

Akhirnya pemahaman ini kita tarik benang merah, bahwa pelaksanaan ibadah puasa dapat memberikan pengaruh terhadap pembinaan kedisiplinan orang yang menjalankannya. Demikian juga anak yang masih dalam proses pembinaan kedisiplinan, sehingga pada diri manusia utamanya anak akan tertanam kesadaran pada kedamaian, ketertiban, keteraturan dan keaktifan dalam berbagai proses dan aktivitas yang harus dijalaninya sesuai dengan aturan dan petunjuk yang harus dipenuhi dan ditaati. 


Menurut pendapat Satjipto Raharja,  dalam makalahnya yang berjudul : Puasa Dan Pembinaan Disiplin Nasional : “ Puasa Memberikan Sahamnya Sendiri Terhadap Pembinaan Disiplin Nasional”. Bila ditelusuri dengan pemikiran yang jernih, statemen ini cukup menjadi referensi bagi kita karena sebagaimana pemaparan penulis pengendalian diri adalah merupakan tolak ukur kedisiplinan yang cukup sulit, untuk diterapkan. Dalam arti yang lebih dalam disiplin dapat berarti mengenyampingkan kepentingan diri sendiri, Islam menghendaki ketakwaan yaitu penyerahan diri setinggi-tingginya kepada kehendak Yang Maha Kuasa yaitu Allah. Ini adalah merupakan tuntutan berat bagi setiap muslim apalagi anak yang masih dalam proses pembinaan disiplin. Namun demikian berkat kesadaran orang tua dan keadaan lingkungan sekitar yang memiliki kultural Islam, anak yang masih lemah dan terbatas segala sesuatunya telah mampu menjalankan ibadah puasa sesuai dengan standar-standar.


Menurut Zakiah Darojat dalam bukunya Puasa Meningkatkan Kesehatan Mental dinyatakan : “Kelakuan buruk terkutuk seseorang itu,  timbul dari dorongan hawa nafsu yang tidak terkendali. Alat pengendali diri yang paling ampuh adalah keimanan yang terjalin masuk kedalam kepribadian.”


Jelas sekali bahwa perilaku terkutuk timbul karena tidak adanya kontrol nafsu, oleh karena itu secara alamiah puasa akan menjadi pengendali diri dalam melakukan perilaku buruk dan terkutuk. Sebagaimana pernyataan yang dikemukakan H.M. Amien Rais; “Ibadah puasa akan dapat memberikan perisai atau benteng yang handal untuk menggapai rayuan keduniaan, seperti kata Nabi, “puasa dapat menjadi pemisah manusia dari neraka.” Dengan berpuasa seseorang akan memiliki kekuatan yang tangguh, sehingga dapat melindungi diri dari berbagai pengaruh nafsu yang buruk dan menyesatkan.


Dengan adanya benteng yang kokoh inilah, manusia akan mampu mengembangkan fitrah kemanusiaannya secara lebih baik dan sempurna. Menurut Ali Syariati dalam bukunya The Man Of Islam disebut sebagai Insan Kamil. Sosok manusia yang telah mampu menyeimbangkan pola kehidupan dunia dan akherat untuk mengemban misi rahmatan lil ‘alaamiin. 


Dalam kaitannya dengan kesadaran mentaati aturan Hamka menegaskan: “Apabila puasa dikerjakan dengan penuh iman dan menghitung laba rugi rohani, terdidiklah diri menjauhi dosa. Beberapa pendapat dan ulasan di atas memberikan pemahaman yang jelas bagi kita, bahwa dengan menjalankan ibadah puasa, akan tertanam dalam diri kita, wawasan, mental dan kesadaran untuk mengendalikan diri dari berbagai perilaku yang tidak sesuai dengan tolak ukur hukum dan kehidupan dari berbagai aspeknya. Dengan demikian kesadaran untuk taat dan patuh terhadap aturan dan perintah yang membawa pada kemaslahatan akan semakin meningkat.


Dari paparan pemikiran diatas dapat disimpulkan tentang rasionalisasi pelaksanaan ibadah puasa dalam pembentukan kedisiplinan anak, yaitu dengan melaksanakan ibadah puasa secara tertib, aktif dan ikhlas akan tertanam jiwa patuh dan taat, karena anak telah terbiasa memenuhi aturan berpuasa sekalipun tidak ada yang mengontrol kecuali Allah Dengan demikian sikap tunduk patuh dan taat yang telah tertanam di dalam jiwa anak akan mempengaruhi perilaku anak dalam mematuhi peraturan dan tata tertib sekolah. Inilah bentuk kedisiplinan yang harus dipenuhi oleh anak yaitu, taat, patuh dan bertanggungjawab dalam mentaati perturan sekolah. Dan hendaknya menjadi perhatian bagi guru dan orangtua untuk membina dan mengembangkan sikap disiplin anak melalui ibadah puasa. Amiin. *) 


Roli Abdul Rokhman: Sekretaris ICMI Orda Bojonegoro. Anggota Presidium Majlis Daerah  KAHMI Kabupaten Bojonegoro


Pertolongan Allah Pasti Akan Datang

Pertolongan Allah Pasti Akan Datang

Bagaimanapun bentuk ujiannya percayalah Allah akan selalu menolong kita, lantas bagaimanapun bentuk ujiannya, seperti apapun masalah yang tengah kita hadapi, percayalah Allah akan selalu menolong kita.

Jangan pernah kita merasa takut dan tidak berdaya, karena ujian atau masalah yang datang tidak akan pernah melebihi batas kemampuan kita.


Salah satu cara agar urusan kita dimudahkan adalah dengan menolong kesusahan orang lain, sebagaimana hadist Dari Abu Hurairah Radhiyallahu’anhu dari Nabi Shallallahu’alaihi wa sallam, beliau bersabda: ‘Barang siapa yang melepaskan satu kesusahan seorang mukmin, pasti Allah akan melepaskan darinya satu kesusahan pada hari kiamat. Barang siapa yang menjadikan mudah urusan orang lain, pasti Allah akan memudahkannya di dunia dan di akhirat. Barang siapa yang menutupi aib seorang muslim, pasti Allah akan menutupi aibnya di dunia dan di akhirat. Allah senantiasa menolong hamba Nya selama hamba Nya itu suka menolong saudaranya’. (HR. Muslim)


Tolonglah saudara kita, sehingga Allah pun berkenan menolong urusan kita, dan senantiasa mengingat pertolongan Allah begitu dekat. "...Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat.” (Al Baqarah : 214)


Semoga senantiasa tumbuh semangat dan kita tidak patah hati bila menghadapi masalah yang ada dalam hidup ini dan selalu untuk terus berbuat baik pada sesama untuk mengharap Ridho Allah Subhanahu wa ta'alah. Wallahu a'alam.


@yatimmandiri

#YatimMandiri #PertolonganAllah #SemangatHijrah #BerbagiKebaikan #BerbagiManfaat #SolusiMasalah
Rahasia Cinta Ibnu Hazm

Rahasia Cinta Ibnu Hazm

Photo By Yatim Mandiri
Rasa galau karena cinta pada lawan jenis sering menghampiri remaja. Biasanya, karena diputuskan oleh kekasih, atau rasa cinta yang mendalam namun tak pernah tersampaikan. Hal itu pernah dialami oleh ulama besar di abad pertengahan, Ibnu Hazm. Ulama yang mempunyai nama lengkap Abu Muhammad Ali bin Ahmad bin Sa’id bin Hazm ini pernah jatuh cinta pada seorang hamba sahaya perempuan yang bekerja di rumahnya.

Ibnu Hazm jatuh cinta pada pembantunya yang masih berusia 16 tahun. Dipaparkannya dalam buku yang ia tulis Thouq Al-Hamamah, bahwa hamba sahayanya ini adalah perempuan paling anggun yang pernah ia temui. Wajahnya bercahaya, perilakunya anggun, juga gerakgeriknya sangat elok. Meski tinggal disatu rumah yang sama, namun, hamba sahayanya ini sama sekali tidak pernah bertutur kata sepatah pun pada Ibnu Hazm. “Saya sangat mencintainya. Sungguh, sangat mencintainya. Selama dua tahun saya terus berusaha keras untuk dapat mendengar satu kata khusus yang terucap dari mulutnya untuk saya,” ujar Ibnu Hazm dalam bukunya. Sekeras apapun Ibnu Hazm mengajaknya bicara, perempuan anggun ini tetap diam. Menjaga pandangan dan jaraknya pada lawan jenis. Hingga suatu hari keluarga Ibnu Hazm mengadakan sebuah pesta. Dalam keriuhan pesta, hamba sahaya itu melebur bersama para perempuan lain. Ibnu Hazm mencoba mendekatinya untuk menyatakan cintanya. Namun, saat keduanya sudah sangat dekat hamba sahaya ini menyadari kehadiran Ibnu Hazm. Dirinya pun menghindar.

Sampai tiba saat ibunda Ibnu Hazm meminta hamba sahaya itu bernyanyi. Dirinya yang awalnya hanya malu-malu mulai mendendangkan beberapa bait lagu. Itulah momen dimana Ibnu Hazm bisa melihat wajah hamba sahaya yang amat dicintainya itu lebih lama. Begitu menentramkan saat dipandang. Mendengar suaranya yang indah. Yang tak pernah didengarnya sebelumnya. “Andai saja ia tak beraga. Malaikat ia selayaknya. Wajahnya bersinar bak permata, tubuhnya pualam pendarkan cahaya,” tulis Ibnu Hazm. Sayangnya, setelah itu Ibnu Hazm dan keluarganya pindah ke barat Cordoba, hamba sahaya ini tak ikut dengan keluarga Ibnu Hazm. Mereka tak pernah lagi bertemu.

Hingga suatu ketika Ibnu Hazm melihatnya dipemakaman seorang keluarga Ibnu Hazm. Dirinya sempat senang, seakan cinta lamanya tumbuh kembali. Namun itu tak lama. Sejak saat itu, Ibnu Hazm tak pernah lagi melihatnya. Sampai suatu saat Ibnu Hazm berjalan bersama seorang teman. Dan temannya ini mengenali seorang wanita yang tak asing. “Wajahnya lusuh. Tak ada lagi kecantikan yang terpancar. Dirinya tak lagi bisa menjaga perilakunya dan sikapnya. Berbeda dengan dirinya yang kucintai dulu,” ujar Ibnu Hazm. Ternyata, semua itu karena dirinya sudah tak bisa menjaga sikapnya, sering mencari nafkah diluar rumah sendiri.

Ada hikmah yang dapat dipetik dari kisah Ibnu Hazm ini.
Bahwa cinta yang tak berbalas bukanlah hal yang selalu harus ditangisi. Mungkin Allah sudah menggariskan kita dengan lawan jenis lain yang lebih pantas. Percayalah bahwa jodoh yang diberikan Allah adalah yang terbaik. Semoga kita selalu dalam lindungan Allah

Sumber: Majalah Yatim Mandiri (2018) Download Majalah KLIK
http://www.yatimmandiri.org